Gerakkan Masyarakat untuk Gemar Baca dan Tulis

  • PDF
Untitled document

UNM - Warga sekolah yang terdiri dari semua unsur di sekolah, yaitu kepala sekolah, komite, guru, penjaga sekolah, siswa, dan semua yang masuk ke sekolah, secara massif harus mulai digerakkan untuk bersama-sama membiasakan diri membaca dan menulis. Demikian diungkapkan oleh Amir Mallarangan, Spesialis Pelatihan Guru Sekolah Dasar pada acara pertemuan reviu sekolah percontohan USAID PRIORITAS yang diadakan di Hotel BBC Sengkang (28 April 2015).        

“Literasi yang kuat pada semua level masyarakat, akan menguatkan bangunan dan daya saing bangsa karena bangsa ditopang oleh masyarakat yang berpengatahuan,” ujarnya lebih lanjut.  Pertemuan sekolah percontohan USAID PRIORITAS yang diadakan untuk ketiga kalinya ini di Wajo ini diikuti oleh Komite Sekolah, Kepala Sekolah dan Guru dari 4 sekolah percontohan yaitu, MTS As’adiyah Bonto Use, SMPN 4 Sengkang, SD Muhammadiyah Sengkang, dan MIS $5 Surae Sengkang Kabupaten Wajo.

Guna membiasakan diri menulis,  seluruh peserta  dilatih menuliskan hal – hal inspiratif yang mereka rasakan di sekeliling mereka. “Kebiasaan menulis menjadikan kita terbiasa mendokumentasikan kemajuan sekolah. Tanpa dokumentasi dan data yang baik, maka evaluasi kemajuan sekolah juga sulit dilakukan,” ujarnya lebih lanjut. 

Pelatihan difasilitasi oleh empat orang Fasilitator dari Universitas Negeri Makkasar yaitu, DR. A. Makkasau dan DR. A. Asmawati  dan dari UIN Alauddin DR. St. Mania dan Usman, M.Pd dengan mengusung materi “bengkel menulis, dan  pembelajaran Saintific (IPA)”. Keempat fasilitator berkolaborasi, menyampaikan trik dan kiat meningkatkan dan  mengimplementasikan budaya baca, budaya lisan dan tulis yang tangguh di sekolah.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Bidang Program Dinas Pendidikan Kab. Wajo, Drs.Muhammad Nur, MPd, menekankan pentingnya membumikan literasi dalam pembelajaran. “Sebisa mungkin anak-anak diminta banyak membaca terkait pelajaran yang diajarkan, baik sebelum, ketika atau setelah pembelajaran. Manfaatkan buku-buku secara maksimal, jadikan anak-anak biasa membaca, baik terkait pembelajaran maupun tidak,” ujarnya.

Handoko Widagdo, spesialis Manajemen Berbasis Sekolah USAID PRIORITAS Jakarta sebelumnya juga mengatakan bahwa walaupun China menjadi  salah satu negara eksportir terbesar barang elektronik, namun negara itu jarang menemukan barang-barang yang diciptakannya. Penemunya kebanyakan berasal dari barat atau negara-negara lain. “Ini karena China pada tahun tahun sebelumnya melarang para siswanya membaca buku fiksi. Mereka menganggap kegiatan seperti itu buang-buang waktu, sehingga generasi berikutnya menjadi kurang memiliki imajinasi,”ujarnya.

“Membaca seharusnya bukan program, tapi gerakan. Karena gerakan maka seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif di dalamnya,” ujarnya lebih lanjut.

Anda berada di: