Demi Pemerataan Pendidikan, Mahasiswa UNM Mengajar Anak TKI Di Malaysia

  • PDF

67fbc55c-67f4-432d-8317-25f61c9d3845UNM- Membagikan ilmu kepada anak-anak Indonesia menjadi impian mahasiswa angkatan 2015 ini, Andika Isma mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Makassar (UNM). Termasuk membagikan ilmu kepada anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Hal inilah yang mendorong pria berusia 21 tahun ini mengikuti program program Volunterism Teaching Indonesian Children (VTIC) Cycle 6 oleh VTIC Foundation bekerjasama pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Malaysia dan Konsulat Jendral Republik Indonesia Kuching.

Andika Isma terpilih menjadi salah satu kandidat dari 46 mahasiswa yang terpilih dari seluruh Indonesia. Seleksi yang diikuti ribuan peserta itu terbilang cukup ketat, mulai dari tahapan seleksi berkas, video microteaching dan wawancara.

Ia menjalani program tersebut pada Agustus 2018 lalu bersama relawan lainnya untuk mengajar anak sekolah-sekolah non-formal yang ada di Sarawak, Malaysia.

Selama sebulan lebih, Andika Isma bersama relawan lainnya tinggal bersama TKI dan mengajar anak-anak mereka di sana demi misi pemerataan pendidikan terhadap seluruh warga Negara Indonesia. Berbagai usaha dan upaya dilakukan demi perkembangan pendidikan untuk anak buruh migran tersebut.

Ia melihat bahwa realita pendidikan untuk anak Indonesia belum merata, apalagi bagi mereka yang menetap di luar Indonesia. Tercatat, sekitar 20.000 anak buruh migran yang ada di Malaysia dan hanya sebagian anak Indonesia yang mendapatkan pendidikan.

Meski sudah berlalu, sampai saat ini, Andika Isma masih kerap berdiskusi via sosial media untuk pengembangan pendidikan bagi Cikgu (sebutan guru di Malaysia) dan siswa-siswanya yang ada di Sarawak. Bahkan, setiap keluhan dan pencapaian yang telah dirah siswanya kerap kali menjadi bahan diskusi bagi mereka.

Andika Isma, yang juga merupakan Pendiri dari Forum Generasi Berencana Kabupaten Pinrang ini bercerita tentang pengalamannya selama di Sarawak. “Satu bulan berada di negeri orang dan ikut merasakan seperti apa yang dialami para TKI. Itu adalah pengalaman yang luar biasa,” katanya.

“Saya akhirnya tahu bahwa anak-anak TKI di Malaysia sangat membutuhkan bantuan dan mereka berhak untuk mengenyam pendidikan seperti anak-anak lainnya,” tutur Andika. “Bahkan ada sekitar 80 perseb TKI di sana itu berasal dari Sulawesi Selatan.”

Untuk itulah, mahasiswa angkatan 2015 ini termotivasi agar nantinya banyak pemuda Bugis-Makassar lainnya bisa ke sana dan berbagi ilmu dengan anak-anak Indonesia di Malaysia.

“Semoga saudara-saudara kita di Indonesia tergoyahkan hatinya untuk membantu putra-putri Indonesia yang ada di Malaysia. Sebab di sana mereka sangat membutuhkan bantuan, berupa seragam sekolah, buku, dan alat tulis lainnya,” tutupnya

Last Updated on Rabu, 19 September 2018 08:23

Anda berada di: