Rektor UNM : Jadikan Perusahaan Sumber Kekuatan Sekolah

Untitled document

1._Rektor_UNM_2UNM – Sekolah selama ini tidak terlalu memperhatikan sumber daya dan dana dari luar. Kemajuan sekolah tidak seharusnya hanya bergantung pada orang tua dan kekuatan guru, tapi pada perusahaan-perusahaan yang bisa dijadikan mitra sekolah. Demikian pendapat Rektor Universitas Negeri Makassar, Prof. DR. Arismunandar,  di hadapan sekitar 112 orang pendidik dari Jateng yang datang ke Sulsel untuk melakukan study banding pembelajaran dan pengelolaan sekolah (30/10). Rektor menceritakan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya, ketika warga sekolah terutama kepala sekolah ditanya tentang pendanaan sekolah diluar BOS dan Pendidikan Gratis, kebanyakan jawaban pertama kali yang terlontar adalah dari orang tua. “Orang tua adalah organ dalam sekolah, sekolah seharusnya lebih jauh memberdayakan kemampuannya untuk membuat jejaring dengan organ luar yaitu perusahaan dan para alumni,” lanjutnya.

 

Menurutnya jejaring ini belum dikelola dengan baik untuk memajukan sekolah. Padahal kedua komunitas tersebut sangat potensial dalam pengembangan manajemen dan pembelajaran sekolah.  Di sisi lain, menurut Jamaruddin, Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS Sulawesi Selatan mengatakan bahwa untuk membentuk jiwa kewirausahaan, kerjasama sekolah dengan perusahaan musti mulai dilakukan. “Sekolah semenjak dini harus mengajarkan kepada anak didik mengenal dunia usaha dan mendorong ketrampilan kreatif anak untuk muncul. Sinergi perusahaan dan sekolah bisa memunculkan banyak kemungkinan pengembangan daya kreatifitas dan kewirausahaan anak,”

2._Rektor_UNM

Sebelumnya selama empat hari (27-30), pendidik dari lima kabupaten Jawa Tengah melakukan study visit di beberapa sekolah SD dan SMP di Maros dan Makasssar. Di Makassar mereka ke SD KOmpleks IKIP, SDN Gunung Sari 1, Di SMP YP PGRI dan SMP 26. Di Maros mereka belajar di SDN 39 Kassi, MIN Maros Baru, SMP 4 dan MTsn Alliretengae. Mereka melakukan pendokumentasian terhadap beberapa aspek kemajuan sekolah, baik dalam pembelajaran dan pengelolaan sekolah untuk mereka jadikan acuan perbaikan di sekolah masing-masing.

Menurut Mustajib, Communication Specialist USAID PRIORITAS, sekolah yang hanya mengandalkan sumber daya dan dana dari BOS dan pendidikan gratis, sulit untuk berkembang melampui target pendidikan yang ingin dicapai. “Kalau sekolah mau berkembang diluar perkembangan yang biasa. Sekolah mustinya bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan. Selain untuk pendanaan, juga untuk pendidikan anak-anak semenjak dini mengenal dunia usaha,” ujarnya.

Para  pendidik ini merasakan manfaat study banding. Salah satu yang menarik adalah menjadikan ruang di depan dan di samping kelas sebagai perpustakaan mini, seperti di SD Kompleks IKIP. Sedangkan buku-buku perpustakaan mini tersebut bukan diadakan oleh sekolah, tapi oleh orang tua siswa dengan system peminjaman. “Jadi buku ini milik orang tua siswa yang diletakkan disini. Mereka bisa mengambil  kembali di akhir semester, tapi bisa juga menyumbangkannya ke sekolah,” kata Alfian, guru kelas di Kompleks IKIP. Dengan cara demikian, buku perpustakaan di sekolah menjadi  banyak dan bervariasi, tanpa tergantung  penggunaan dana BOS. “Anak-anak memilki banyak alternatif buku bacaan dan juga tempat membaca buku. Setiap lorong sekolah bisa menjadi perpustakaan mini yang bisa menumbuhkan minat baca anak,”  ujar Alfian lebih lanjut.

Translate »